pulau lombok

LOMBOK

        Dari berbagai sumber lisan dan tulisan (lontar dan babad), dapat kita ketahui berbagai nama untuk pulau Lombok. Nama Lombok ini kita jumpai dalam Negarakartagama (Decawanana). Dalam lontar itu Lombok Mirah untuk Lombok Barat dan Sasak Adi  untuk Lombok Timur. Dari sumber lisan, pulau ini dinamakan pulau Sasak, oleh karena Pulau ini dizaman dulu ditumbuhi hutin belantara yang sangat rapat, merupakan dinding. Dari kata Seksek  inilah timbul nama Sasak untuk pulau ini. Dr. C.H. Goris menguraikan arti kata sasak secara etimologis: Sasak adalah kata Sanskerta, yang berasal dari kata Sak = Pergi, Saka = Asal. Jadi orang Sasak adalah orang yang pergi dari negeri asal dengan memakai rakit sebagai kendaraan, pergi dari jawa dan mengumpul memaki rakit sebagai kendaraan, pergi dari Jawa dan mengumpul di pulau ini. Pendapat Goris ini dibuktikan dengan silsilah para bangsawan, hasil sastra tertulis yang digubah dalam bahasa Jawa Madya dan berhuruf Jejawan (huruf sasak).
          Masih mengenai nama Sasak untuk nama Pulau Lombok ini kami kemukakan pendapat  dari Dr. Van Teeuw, yang mengatakan bahwa Sasak itu berasal dari keadaan penduduk asli Pulau ini yang memaki kain Tembasaq  (kain putih). Pengulangan dari kata tembasaq menjadi Saqsaq = sasak. Bagi kami sendiri kemungkinan kata Sasak ini untuk nama pulau Lombok ialah dari nama kerajaan yang pertama-tama ada di Pulau ini.
          Kerajaan Sasak menurut P. De Roo De La Faille berada di bagian barat daya dari Pulau ini. Apakah Negara Sasak itu yang kemudian berkembang menjadi kerajaan Kedarao. Kalau Teeuw sendiri menduga kerajaan Sasak itu terletak di bagian tenggara dari  Pulau Lombok. Memang agak rumit mengikuti pekembangan nama itu sebab riwayat tertulis tidak ada.
          Menurut sebuah brosur yang ditulis oleh Ditjen Kebudayaan Provinsi Bali, bahwa di Pujungan Tabanan Balai terdapat sebuah tongtong perunggu yang dikeramatkan penduduk. Tongtong itu bertuliskan huruf kwadrat  yang bunyinya : sasak dana prihan, sirih javanira. Katanya mengingatkan kemenangan atas negeri sasak. Tongtong  itu ditulis setelah Anak Wungsu, jadi berarti kira-kira pada awal abad ke-12.
          Dalam babad Sangupati pulau ini terekenal dengan nama Pulau Meneng (sepi).  Kemungkinan pulau Lombok di waktu itu penduduknya masih jarang. Sampai akhir abad ke-19 nama pulau ini lebih terkenal dengan nama Selaparang, menurut nama suatu kerajaan yang terletak di Lombok Timur yang berkembang sampai pertengahan abad ke-14. Kerajaan ini semula bernama Watu Parang, kemudian berubah menjadi Selaparang (bahasa kawi: sela = batu, parang = karang).
Dalam suatu memori tentang kedatangan Gajah Mada di pulau ini, waktu itu pulau itu disebut dengan nama Selapawis (bahasa kawi: Sela  = batu, pawis = ditaklukkan). Selapawis =  batu yang telah ditaklukkan.
          Mengenai nama ini masih di uraikan berdasarkan babad Lombok. Dalam babad itu disebutkan bahwa raja yang memerintah seluruh Pulau ini bernama Lombok dan berkedudukan di sebuah teluk yang indah, yang tempat kedudukan itu dinamai menurut nama Baginda ialah Lombok. Seluruh wilayah kekuasaannya juga disebut sesuai dengan nama Rajanya. Pada masa itu selat Alas ramai dikunjungi oleh kapal dan perahu-perahu yang singgah di pelabuhan itu untuk membongkar dan memuat barang-barang dan mengisi air minum. Di Teluk itu sampai sekarang terdapat sumber mata air beberapa buah banyaknya. Dalam sejarah VOC pertama kali diberitaka oleh Steven van der Hagen pada tahun 1603, bahwa di pulau ini terdapat banyak beras yang murah dan hampir setiap hari diangkut ke Bali dengan sampan. Maka tidak mustahil bahwa yang mempopulerkan nama ini adalah orang luar. Bagi penduduk asli sendiri lebih popular untuk nama daerah mereka Gumi Sasak atau Gumi Selaparang.
          Kemudian dari penemuan arkeologis dapat kita ketahui bahwa kira-kira pada akhir jaman perunggu, enam abad yang lampau di pulau bagian selatan telah dihuni oleh sekelompok manusia yang kebudayaanya sama dengan penduduk di Vietnam Selatan. Di Gua Tabon dan Gua Sasak di Pulau Pallawan (Filipina Tengah), Gilimanuk (Bali), Malolo (Sumba). Tepatnya pemukiman itu ialah di Gunung Piring, desaTrowai, kecamatan Pujut, Lombok Tengah.
          Menurut Drs. M.M Sukarto dan Prof. Solheim guru besar di Universitas Hawai, kebudayaan mereka yang di Gunung Piring itu termasuk ke dalam Shan Huyn Kalanny Pottery Tradition. Juga masih di bagian Selatan banyak terdapat menhir dan gua bekas pemujaan dan pemukiman atau pekuburan purba.

Sumber : http://sejarahini.blogspot.com/2018/04/sejarah-suku-di-pulau-lombok-dan-pulau.html

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment